Berita Pulau seribu kisah Pilu di Balik Evakuasi Terbakarnya KM Paus I

Berita pulau seribu insiden terjadinya kapal angkut penumpang berjenis sepeedboat yang memakan banyak korban, kapal angkut penumpang yang pemberangakatan dari kali adem muara angke kapal yang berjenis speedboat ini terbakar di lautan lepas berita yang kami berikan merupakan topik ulasan atas terjadinya Peristiwa terbakarnya Kapal Motor (KM) Paus I diperairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan pada Rabu (27/8/2014) kemarin menyisakan kisah mengharuhkan. Tak hanya muncullah pada korban terbakarnya kapal naas tersebut. Kisah mengharukan ini juga dialami para tim relawan yang memasang eksodus kapal penyebrangan milik Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta.

Memang sungguh berat tugas dari para ringan tangan atau tim evakuasi. Pasalnya, selain harus mempertaruhkan nyawa, mereka juga dihadapkan dalam keadaan menyeramkan yang tidak mudah dilupakan. Mungkin terbesit di benak kita evakuasi adalah cara penyelamatan dengan mempertaruhkan diri sendiri demi menyelamatkan orang lain. Tapi, jangan salah, umumnya para relawan dan tim evakuasi bagaimanapun juga menanggung resiko tambahan meski mahluk-mahluk itu telah sukses membawa pulang sasaran hidup atau mati.

Seperti yang melegenda oleh Abdul Rahman salah seorang personil tim relawan dari Suku Dinas Pemadam Kebakaran ataupun Penanggulangan Bencana (Damkar – PB) Kabupaten Kepulauan Seribu. Hal yang diingat oleh Abdul Rahman sama dengan ketika merawat evakuasi kala itu arus laut cukup tinggi. Sebelum terlaksananya evakuasi, dirinya mendapat kabar dari salah seorang temannya Maulana (salah oknum korban selamat) sempat menginformasikan bahwa korban sedang mengalami kecelakaan.

Sontak, Abdul Rahman bergegas untuk segera menolong si mangsa dengan langsung memberitahukan kepada aparat lain-lain untuk menyiapkan kapal dan menolong korban terjadinya kebakaran Kapal KM Paus 1 di perairan Pulau Pari. “Sekitar pukul 10.43 WIB, terdengar nada HP ana tanda timbul panggilan masuk, ternyata dari teman saya yang juga salah satu personil Damkar Pulau Seribu terkena musibah terbakarnya KM Paus satu di perairan pulau pari. Tidak jauh lebar lagi, kita-kita langsung bersegera menyiapkan kapal guna mengevakuasi korban,” kenangnya.

Perlu diketahui, Kapal milik Sudin Damkar Kepulauan Seribu ialah dermawan atau tim yang pertama sungai mengevakuasi penyelamatan korban. “Ada tiga orang umpan mengombang ambing di laut dan itu sasaran yang pertama kali kita evakuasi, selanjutnya ada satu tim Damkar lainnya menyusul datang untuk membantu mengevakuasi korban,” jelasnya.

Dia menceritakan, saat itu gelombang cukup tinggi sehingga cukup menyulitkan tim dalam mengevakuasi korban, beruntung ada kapal tangker besar menyokong serta kapal tersebut di fungsikan untuk melestarikan kapal Paus 1 yang terbakar dari ombak sehingga mempermudah evakuasi korban. “Setelah ini tim langsung mengevakuasi korban ke RSU pulau seribu yang ada di pulau pramuka. Alhamdulillah, warga langsung nimbrung menyambut ataupun membantu kita,” pungkasnya.

Polres Pulau Seribu Olah TKP KM Paus I

Sehari pasca insiden terbakarnya KM Paus I, pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan bagi kapal angkut penumpang milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Polisi melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda kapal maupun beberapa penumpang yang duduk di bangku belakang, Kamis (28/8/2014)

Dari pantauan wartawan pulau seribu, tim Puslabfor Polres Kepulauan Seribu melakukan identifikasi di atas kapal naas tersebut. Bangkai kapal telah di evakuasi dari perairan Pulau Seribu ke dermaga kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara kemarin. Polisi juga memanfaatkan pemeriksaan pada nahkoda dan anak Buah Kapal (ABK), terkait ledakan yang terjadi. Selain itu, beberapa orang penumpang yang saat kejadian duduk di bangku belakang juga dimintai bukti oleh pihak yang berwajib.

Kapolres Kepulauan Seribu AKBP Johanson Ronald Simamora kepada wartawan menyakan bahwadugaan sedang api yang membakar kapal milik pemerintah ini bersumber dari korsleting listrik. Namun polisi senantiasa bakal mendalami seandainya ada faktor kelalaian dalam insiden tersebut. “Dugaan sementara terus-menerus konsleting arus pendek, kita akan terus memanfaatkan penyelidikan secara maraton,” kata Johanson.

Johanson menambahkan, jika pada saat insiden terbakarnya KM Paus I ini, kondisi kapal selalu saja dalam kategori kenyamanan sematkan. terekstra kapal tersebut juga selamanya tergolong baru. “Kondisi kapalnya kerap baru dan laiak beroperasi,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, KM Paus I terbakar di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu saat melakukan perjalanan menuju Pulau Pramuka pada Rabu (27/8/2014) kemarin. didalam perjalanan kapal tersebut bermuatan 37 penumpang di mana 35 orang menderita luka bakar dan kini masih menjalani perawatan di 3 rumah sakit di Jakarta.

Berita Pulau seribu Satu Korban Terbakarnya KM Paus meninggal di RSCM

Satu mangsa meledaknya Kapal Motor (KM) Paus I milik Dishub DKI dilaporkan kematian dunia selepas menjalani perawatan intensif di RSCM, Jakarta pusat.

Bupati Kepulauan Seribu Asep Syarifudin mengatakan, dia baru mendapatkan kabar dari jajarannya bahwa satu dari 35 umpan kapal meledak kematian dunia di RSCM. “Saya baru saja dapat kabar satu masyarakat meninggal. Laki-laki atas inisial Irwanto, warga kepulauan Seribu,” term Asep Syarifudin di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis, (28/8/2014).

Penumpang yang akhir hayat tersebut bernama Irwanto, warga Pulau Kelapa. Asep Syarifudin menuturkan, dugaan ledakan kapal itu amat tipis dipicu oleh human error. Jika kapal penumpang ini dipelihara dengan baik operasionalnya gak akan terganggu. Apalagi sampai terbakar atau meledak.

Sebab, dalam prosedurnya, pemeliharaan setiap armada laut itu dimonitor sekali sebulan, sekali 3 bulan, sekali enam bulan, dan 1 kali setahun.”Operatornya yang perlu dipertanyakan seakan-akan apa standart operasional sistem (SOP)-nya. Sangat tidak gaya-gayanya itu (kapal meledak) disebabkan human error,” tegasnya.

Asep mengatakan bahwasanya Irwanto menghembuskan nafas terakhir saat dalam penjaminan di RSCM Jakarta. sasaran meninggal karena mengalami luka bakar yang cukup parah di tubuhnya. “Korban maut Karena luka bakar terlalu parah. Kita sudah berusaha terbaik menyelamatkan. hamba sudah laporkan ke Pak Gubernur dan Wagub,” ujarnya.

Orang nomor satu kepulauan Seribu itu menyampaikan duka cita atas meninggalnya salah satu penumpang kapal yang dimiliki Dinas pertalian DKI ini. sejenis sosok tanggung jawab, biaya perawatan 35 korban lainnya bakal ditanggung Pemprov DKI. “Saya nimbrung berduka cita. Untuk yang masih perawatan keseluruhan biaya rumah sakit ditanggung oleh pemprov DKI Jakarta,” ungkap Asep.

Dishub Pulau Seribu Tanggung biaya Pengobatan Korban

Puluhan insan korban ledakan Kapal Motor (KM) Paus I masih menjalani pewatan intesif di ruang pemeliharaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara. Seluruh modal pengobatan korban ledakan kapal naas tersebut akan di tanggung pihak Dinas kaitan (Dishub) DKI Jakarta.

Informasi yang dihimpun wartawan Pulau seribu, hingga Kamis (28/8/2014) sebanyak 20 orang korban luka bakar masih menjalani perawatan di ruang perawatan rumah sakit milik Pemda DKI. Para pasien umpan KM Paus ini masih belum timbul yang dipulangkan dari rumah sakit. akan tetapi kondisi para korban sudah jauh membaik.

Menurut Irfan (33) salah seorang korban terbakarnya kapal tersebut mengaku, ketika ini kondisinya sudah membaik, meskipun luka bakarnya masih dalam penanganan dokter spesialis luka bakar. Irfan tidak lagi memikirkan masalah biaya perawatan di rumah sakit, akibat sudah di tanggung pihak Dishub. “Alhamdulillah soal biaya perawatan telah ditanggung sama Dishub, kita-kita berharap bisa cepat pulih kembali,” kata Irfan.

Seperti diberitakan sebelumnya, KM Paus I terbakar di kisaran samudra Pulau Pari. Kapal naas tersebuut membawa puluhan penumpang yang kebanyakan wisatwan yang akan berlibur ke Pulau Seribu. Diduga ledakan yang mengakibatkan terbakarnya kapal milik DIshub tersebut ganjaran konsleting elektrik.

Last 5 posts in berita

Leave a Reply

Your email address will not be published.